BATURRADEN - Semangat membara menyelimuti halaman SMA Negeri 1 Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah, Gelombang udara bukan sekadar frekuensi, melainkan energi pembentuk karakter saat ORARI Lokal Kabupaten Banyumas bersinergi bersama Gerakan Pramuka dalam kegiatan Pembantaraan Sangga Inti Ambalan Gatot Soebroto–Cut Meutia, Sabtu (14/02/2016).
Kolaborasi ini menjadi ruang belajar nyata tentang disiplin, kepemimpinan, dan kesiapsiagaan komunikasi generasi muda.

Rombongan Pengurua ORARI Lokal Kabupaten Banyumas dipimpin Ketua Hardjo Oemar Sajat (YC2KIL) bersama Sekretaris Seto Eko Purwanto (YG2BXM), Sie Pendidikan Asjik Setyawan (YC2ROR), Sie Teknik Wahyu Yuwono Suswondo (YD2FDA), Humas Edy Rahmanto (YG2AUT), serta anggota termuda Altaf Athaillah Rakani (YD2AHQ) dan Kriatiantoro Eko Raharjo (YD2VIE) Sleman.
|
Baca juga:
Zulfa Mustofa Ditetapkan Jadi Pj Ketum PBNU
|

Mereka disambut hangat oleh Pembina Pramuka Kak Sri Irawati dan Pradana Putri Dek Yasmin Nur Atira dalam suasana penuh keakraban dan semangat kolaborasi.
Dalam arahannya, Ketua ORARI Banyumas Hardjo Oemar Sajat (YC2KIL) menegaskan, Radio amatir adalah jembatan kemanusiaan. Saat sistem komunikasi lain terhenti, radio tetap berdiri.
"Namun penggunaannya tidak boleh sembarangan. Semua sudah diatur dalam regulasi, termasuk pembagian band frekuensi sesuai ketentuan pemerintah, " Jelasnya.
Ia menambahkan, “Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 17 Tahun 2018, setiap amatir radio wajib menggunakan pita frekuensi (band) sesuai kelas izin dan peruntukannya. Di situlah letak kedisiplinan dan kehormatan seorang amatir radio. Adik-adik Pramuka harus memahami bahwa kebebasan di udara tetap dibingkai aturan.” Imbuh Tandasnya.
Materi disampaikan bergantian dengan pola teori ringkas dan praktik dominan.
Peserta dikenalkan dasar komunikasi radio, sejarah dan fungsi radio, peran ORARI dalam komunikasi darurat dan sosial kemasyarakatan, hingga etika serta kode etik amatir radio.
Sie Pendidikan Asjik Setyawan (YC2ROR) menekankan, “Di balik mikrofon ada karakter. Ketelitian, kesabaran, dan kepatuhan aturan adalah ruh komunikasi radio. Kami ingin adik-adik Pramuka bukan hanya bisa berbicara, tetapi memahami tanggung jawabnya.” Ungkapnya.
Selanjutnya Sekretaris Seto Eko Purwanto (YG2BXM) menyampaikan, “Komunikasi radio melatih disiplin frekuensi. Bahasa harus singkat, jelas, dan tidak multitafsir. Dalam kondisi darurat, ketepatan pesan menjadi kunci keselamatan.” Jelasnya.
Sementara Sie Teknik Wahyu Yuwono Suswondo (YD2FDA) menegaskan, “Penguasaan teknis seperti pengaturan frekuensi, penggunaan call sign, kode fonetik internasional, hingga prosedur komunikasi efektif harus dilatih berulang. Kesiapan di lapangan lahir dari latihan yang benar.” Tegasnya.
Humas ORARI, Edy Rahmanto (YG2AUT), memperkuat pesan sosial kegiatan ini dengan menuturkan, “Radio amatir bukan hanya teknologi, tetapi pengabdian. ORARI hadir untuk kepentingan masyarakat. Kami berharap Pramuka dapat menjadi mitra strategis dalam kegiatan sosial dan kebencanaan.” Ungkap tegasnya.
Sementara itu, Altaf Athaillah Rakani (YD2AHQ) lebih banyak memberikan contoh praktik pada setiap sesi. Ia memandu cara menghidupkan dan mengatur HT, memperagakan tata cara call sign, memimpin simulasi komunikasi dua arah antarregu, hingga praktik penyampaian pesan darurat dan komunikasi melalui satelit. Pendekatan praktik tersebut membuat peserta lebih percaya diri dan memahami fungsi perangkat secara nyata.
Diakhir kegiatan Pembina Pramuka, Kak Sri Irawati menyampaikan, “Pembantaraan ini adalah penguatan karakter. Sinergi dengan ORARI memberi wawasan nyata bahwa komunikasi radio sangat vital dalam kondisi darurat. Praktik langsung seperti ini membuat kami lebih cepat bisa, siap dan lebih kompak dalam belajar langsung, " tambahnya.
Latihan ditutup dengan simulasi posko komunikasi dalam kondisi darurat, evaluasi instruktur, serta penanaman nilai disiplin, tanggung jawab, kepemimpinan, dan etika menghormati jalur frekuensi.
Dari Baturraden, gelombang itu kini bukan sekadar suara di udara. Ia menjelma semangat, membentuk Pramuka yang religius dalam sikap, disiplin dalam aturan, dan siap menjaga komunikasi bangsa sesuai regulasi serta nilai pengabdian.
(Djarmanto-YF2DOI)
